Dia bukanlahlah seekor bunglon yang
dengan mudahnya menyamarkan diri disetiap tempat. Baginya, dia itu seperti sehelai
daun kering yang terlepas dari genggaman ranting pohon. Bukannya ia tak ingin berusaha
untuk tetap bertahan pada ranting itu, namun karena ia berbeda dari dedaunan
yang lain, ia pun harus terlepas dari ranting itu dan bergabung dengan dedaunan
lain yang kering nan rapuh dibawah sana. Itu memang tempatnya. Berkumpul
bersama beberapa teman yang mau menerima dirinya apa adanya.
***
10
menit. Waktu yang cukup singkat tetapi terasa lama. Cakka, seorang siswa
kelas 12 duduk terdiam di sebuah kursi
taman yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Sambil mendongakkan kepala, ia
memperhatikan siluet-siluet cahaya yang menerobos melalui celah-celah kecil
yang ada di rimbunnya dedaunan pohon rindang itu. Tas yang tadinya tersampir di
bahu kirinya, kini ia biarkan tas itu tergeletak bebas disamping tempat Cakka terdiam. Saat itu pukul 2 siang kurang 7 menit. Sesekali
helaian daun berwarna kuning kecoklatan yang terbawa semilir angin jatuh
mengenai rambut Cakka yang dibiarkan berantakan. Menunggu itu sungguh membosankan.
Ditambah lagi suasana saat itu bisa dibilang sepi karena hanya kelas Cakkalah yang pulang lebih awal dari biasanya. Saat itu
guru mata pelajaran pada jam pelajaran terakhir tidak memasuki kelas. Bosan
menunggu, Cakka mencoba melakukan sedikit gerakan
kecil seperti mengayunkan kedua kakinya, bersenandung kecil, dan membuat sketsa
kasar pada selembar kertas yang ia robek dari buku tulisnya. Setiap senti
goresan penanya terlihat begitu…dingin dan sepi.
Rasa
itu kini telah bersarang dihati Cakka.
Mungkin seberapa keras pun usaha yang ia coba untuk menghapusnya, justru rasa
itu semakin jelas. Dingin. Hingga membuat pedih. Tanpa di perintah, otaknya
memutarkan kembali secara bergantian memori-memori yang ingin ia enyahkan dari
ingatannya itu. Semuanya.
***
Awalnya ia rasa semuanya menyenangkan.
Berkumpul dengan ‘mereka’ merupakan
hal yang paling Cakka
tunggu-tunggu. Mereka semua dapat tertawa lepas, bersenda gurau, saling berbagi
cerita, dan semua kegiatan yang dilakukan oleh layaknya ‘TEMAN SEJATI’. Semua kata manis yang ‘mereka’ ucapkan kini berubah. Berubah saat mereka mulai menginjak kelas 11.
‘mereka’ seakan-akan menjauhi atau lebih kasarnya
mengucilkan Cakka
yang saat itu sudah jarang berkumpul bersama. Kadang menganggap Cakka tak ada saat mereka semua sedang berkumpul bersama
seperti dulu.
Berubah.
Itulah alasan Cakka
mengapa ia jarang berkumpul bersama. Semuanya sudah berubah. Canda tawa tak
lagi sehangat dulu. Kini ‘mereka’ masing-masing sudah memiliki
kelompok-kelompok orang yang setara dengan ‘mereka’, yang sekasta dengan ‘mereka’.
Bukan dengan seorang remaja kaku yang tak bisa menghidupkan suasana, bukan
dengan seorang remaja cupu dengan tas selempangnya, dan bukan dengan seorang
remaja polos yang berpenampilan aneh seperti Cakka.
‘mereka’ yang dulu Cakka
rasa dapat menerima dan menganggap kehadirannya, yang Cakka anggap sebagai ‘teman sejati’ justru ternyata berbanding terbalik. Entah ‘mereka’ terjebak dalam topengnya hingga tak dapat
melepaskan diri atau memang itu lah wajah aslinya.
***
Lagi-lagi
sehelai daun kering jatuh mengikuti hembusan angin. Daun itu mendarat tepat
diatas pangkuan Cakka. Sejenak ia memperhatikan daun yang
baru saja mendarat itu. Kemudian ia letakkan kertas dan pena yang sedang dia
genggam ke atas tasnya. Cakka meraih sehelai
daun kering yang kuning kecoklatan dari pangkuannya itu. ia perhatikan setiap
guratan tulang daun tersebut. Tak lagi terlihat segar, melainkan menjadi dingin
seperti yang ia rasakan saat ini.
“Lo tuh udah kelas 3,
inisiatif sedikit dong! Lo bisa kan nanya-nanya kalau ketemu kita?! Kalau lo
males nanya, lo bisa sms kan ke kita?”, “Cakka,
didalem berantakkan banget. Beresin tuh!”. Kedua kalimat tersebut kembali terngiang di telinga
Cakka. Cakka
merasakan matanya panas dan basah. Lalu ia coba menyentuh ujung matanya. Benar
saja, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tanpa di beri aba-aba
airmata itu pun terjatuh dan telah memancing teman-temannya untuk merembas
membuat jalur-jalur airmata di pipi Cakka.
“kalian
yang seharus nganggap gue ada. Gue bukan kalian yang dengan gampangnya
menyesuaikan diri. Kalian semua ga nganggep gue, maka dari itu gue sekarang
jarang kumpul sama kalian. Memang dasarnya kalian cuma nganggep gue ‘orang’
yang kalian kenal, bukan ‘teman’. Semuanya jelas dari perlakuan kalian ke gue
selama ini. Hey! Gue bukan pembantu kalian! Dari sekian banyak orang di tempat
itu, kenapa cuma gue yang harus beresin semuanya? Ada apa sama air muka kalian?
Gak enak dilihat waktu kalian lagi ngomong sama gue. Kalian ‘ngebuang’ gue
disaat sifat gue ga seperti yang kalian harapkan lagi. Kompak? Yang ada kalian
berkubu. Gak mau memahami sifat dan karakter satu sama lain.” Cakka
bergumam pelan sambil menundukkan kepalanya. Matanya memperhatikan jejak-jejak
airmata yang menetes lalu menyatu dengan serat benang yang dijadikan bahan
dasar untuk membuat celana sekolah yang
berwarna abu kebiruan. Pandangannya tak jelas karena terhalang oleh airmata.
“pulang
yuk!” tiba-tiba seseorang berdiri dihadapan Cakka
dan mengajaknya pulang. Dengan spontan punggung tangan Cakka menghapus semua airmata yang ada di wajahnya
sebelum ia mendongak ke arah sumber suara. Cakka
mendongak, orang yang ia tunggu kini sedang berada di hadapannya. Seorang teman
yang mau menerima semua yang ada pada diri Cakka
dengan apa adanya. Orang itu bersedekap dan berdiri
tegak hingga menghalangi cahaya matahari yang menyeruak dari celah-celah
rerimbunan daun.
“cepetan
ayo pulang, nanti hujan.” Ajaknya lagi. Cakka
lalu memasukkan pena kedalam tasnya dan memindahkan kertas yang ada diatas
tasnya ke samping lain kursi taman itu. Ia meraih tasnya dan berdiri. Sambil
menyampirkan tas dengan tangan kirinya, tangan kanannya merangkul bahu orang
itu. “lo sih bukannya takut hujan, tapi takut ketinggalan acara TV kesukaan lo.
Jelas-jelas cuaca lagi panas gini. Ngeles lo ga bermutu.” Orang itu pun
terkekeh pertanda perkataan Cakka itu benar. Lalu
mereka meninggalkan kursi taman itu bersama selembar kertas yang tergores
sketsa kasar yang terasa dingin dan sepi dan membiarkan hembusan angin membawa
kertas tersebut terbang entah kemana. Sama seperti halnya Cakka membiarkan begitu saja rasa dingin dan sepi yang
ada di hatinya, toh rasa itu akan hilang terbawa oleh waktu seperti kertas yang
terbawa oleh angin.
Dan
akhirnya Cakka menyadari dua hal. Yang pertama. Bisa
saja kita memiliki seratus, seribu, bahkan puluhan ribu teman didunia ini,
tetapi kita hanya dapat menghitung dengan jari ada berapa orang yang
benar-benar merupakan seorang teman yang
dapat memahami dan menerima dengan apa adanya kita. Yang kedua. Bukan hanya
tentang percintaan, ternyata persahabatan pun merupakan problematika yang
sangat sulit dan mendominasi kehidupan
para remaja yang ada di setiap belahan dunia ini.