Jumat, 15 Agustus 2014

(puisi tanpa judul)



Sepi. Disini sepi.
Gelap. Sunyi.
Kosong. Disini pemandangan kosong.
Terhimpit tembok-tembok yang retak bolong.
Seperti itu hati perempuan ini.
Hati yang tak bertuan ini.

Maka ia coba pergi.
Menjauh dari belenggu sepi.
Mencari sang tuan hati.
Tapi ia terjebak ruang sunyi.
Tak bisa pergi.
Tak bisa mencari.

Perempuan ini hanya bisa menanti. Menanti. Menanti.
Dan berharap kelak
Tuan hati kan datang mencari.

"Teman"



Dia bukanlahlah seekor bunglon yang dengan mudahnya menyamarkan diri disetiap tempat. Baginya, dia itu seperti sehelai daun kering yang terlepas dari genggaman ranting pohon. Bukannya ia tak ingin berusaha untuk tetap bertahan pada ranting itu, namun karena ia berbeda dari dedaunan yang lain, ia pun harus terlepas dari ranting itu dan bergabung dengan dedaunan lain yang kering nan rapuh dibawah sana. Itu memang tempatnya. Berkumpul bersama beberapa teman yang mau menerima dirinya apa adanya.
***
            10 menit. Waktu yang cukup singkat tetapi terasa lama. Cakka, seorang siswa kelas 12 duduk terdiam di sebuah kursi taman yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Sambil mendongakkan kepala, ia memperhatikan siluet-siluet cahaya yang menerobos melalui celah-celah kecil yang ada di rimbunnya dedaunan pohon rindang itu. Tas yang tadinya tersampir di bahu kirinya, kini ia biarkan tas itu tergeletak bebas disamping tempat Cakka terdiam. Saat itu pukul 2 siang kurang 7 menit. Sesekali helaian daun berwarna kuning kecoklatan yang terbawa semilir angin jatuh mengenai rambut Cakka yang dibiarkan berantakan. Menunggu itu sungguh membosankan. Ditambah lagi suasana saat itu bisa dibilang sepi karena hanya kelas Cakkalah yang pulang lebih awal dari biasanya. Saat itu guru mata pelajaran pada jam pelajaran terakhir tidak memasuki kelas. Bosan menunggu, Cakka mencoba melakukan sedikit gerakan kecil seperti mengayunkan kedua kakinya, bersenandung kecil, dan membuat sketsa kasar pada selembar kertas yang ia robek dari buku tulisnya. Setiap senti goresan penanya terlihat begitu…dingin dan sepi.
            Rasa itu kini telah bersarang dihati Cakka. Mungkin seberapa keras pun usaha yang ia coba untuk menghapusnya, justru rasa itu semakin jelas. Dingin. Hingga membuat pedih. Tanpa di perintah, otaknya memutarkan kembali secara bergantian memori-memori yang ingin ia enyahkan dari ingatannya itu. Semuanya.
***
            Awalnya ia rasa semuanya menyenangkan. Berkumpul dengan ‘mereka’ merupakan hal yang paling Cakka tunggu-tunggu. Mereka semua dapat tertawa lepas, bersenda gurau, saling berbagi cerita, dan semua kegiatan yang dilakukan oleh layaknya ‘TEMAN SEJATI’. Semua kata manis yang ‘mereka’ ucapkan kini berubah. Berubah saat mereka mulai menginjak kelas 11. ‘mereka’ seakan-akan menjauhi atau lebih kasarnya mengucilkan Cakka yang saat itu sudah jarang berkumpul bersama. Kadang menganggap Cakka tak ada saat mereka semua sedang berkumpul bersama seperti dulu.
Berubah. Itulah alasan Cakka mengapa ia jarang berkumpul bersama. Semuanya sudah berubah. Canda tawa tak lagi sehangat dulu. Kini ‘mereka’ masing-masing sudah memiliki kelompok-kelompok orang yang setara dengan ‘mereka’, yang sekasta dengan ‘mereka’. Bukan dengan seorang remaja kaku yang tak bisa menghidupkan suasana, bukan dengan seorang remaja cupu dengan tas selempangnya, dan bukan dengan seorang remaja polos yang berpenampilan aneh seperti Cakka. ‘mereka’ yang dulu Cakka rasa dapat menerima dan menganggap kehadirannya, yang Cakka anggap sebagai ‘teman sejati’ justru ternyata berbanding terbalik. Entah ‘mereka’ terjebak dalam topengnya hingga tak dapat melepaskan diri atau memang itu lah wajah aslinya.
***
            Lagi-lagi sehelai daun kering jatuh mengikuti hembusan angin. Daun itu mendarat tepat diatas pangkuan Cakka. Sejenak ia memperhatikan daun yang baru saja mendarat itu. Kemudian ia letakkan kertas dan pena yang sedang dia genggam ke atas tasnya. Cakka meraih sehelai daun kering yang kuning kecoklatan dari pangkuannya itu. ia perhatikan setiap guratan tulang daun tersebut. Tak lagi terlihat segar, melainkan menjadi dingin seperti yang ia rasakan saat ini.
“Lo tuh udah kelas 3, inisiatif sedikit dong! Lo bisa kan nanya-nanya kalau ketemu kita?! Kalau lo males nanya, lo bisa sms kan ke kita?”, “Cakka, didalem berantakkan banget. Beresin tuh!”. Kedua kalimat tersebut kembali terngiang di telinga Cakka. Cakka merasakan matanya panas dan basah. Lalu ia coba menyentuh ujung matanya. Benar saja, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Tanpa di beri aba-aba airmata itu pun terjatuh dan telah memancing teman-temannya untuk merembas membuat jalur-jalur airmata di pipi Cakka.
kalian yang seharus nganggap gue ada. Gue bukan kalian yang dengan gampangnya menyesuaikan diri. Kalian semua ga nganggep gue, maka dari itu gue sekarang jarang kumpul sama kalian. Memang dasarnya kalian cuma nganggep gue ‘orang’ yang kalian kenal, bukan ‘teman’. Semuanya jelas dari perlakuan kalian ke gue selama ini. Hey! Gue bukan pembantu kalian! Dari sekian banyak orang di tempat itu, kenapa cuma gue yang harus beresin semuanya? Ada apa sama air muka kalian? Gak enak dilihat waktu kalian lagi ngomong sama gue. Kalian ‘ngebuang’ gue disaat sifat gue ga seperti yang kalian harapkan lagi. Kompak? Yang ada kalian berkubu. Gak mau memahami sifat dan karakter satu sama lain. Cakka bergumam pelan sambil menundukkan kepalanya. Matanya memperhatikan jejak-jejak airmata yang menetes lalu menyatu dengan serat benang yang dijadikan bahan dasar untuk membuat celana sekolah yang berwarna abu kebiruan. Pandangannya tak jelas karena terhalang oleh airmata.
            “pulang yuk!” tiba-tiba seseorang berdiri dihadapan Cakka dan mengajaknya pulang. Dengan spontan punggung tangan Cakka menghapus semua airmata yang ada di wajahnya sebelum ia mendongak ke arah sumber suara. Cakka mendongak, orang yang ia tunggu kini sedang berada di hadapannya. Seorang teman yang mau menerima semua yang ada pada diri Cakka dengan apa adanya. Orang itu bersedekap dan berdiri tegak hingga menghalangi cahaya matahari yang menyeruak dari celah-celah rerimbunan daun.
            “cepetan ayo pulang, nanti hujan.” Ajaknya lagi. Cakka lalu memasukkan pena kedalam tasnya dan memindahkan kertas yang ada diatas tasnya ke samping lain kursi taman itu. Ia meraih tasnya dan berdiri. Sambil menyampirkan tas dengan tangan kirinya, tangan kanannya merangkul bahu orang itu. “lo sih bukannya takut hujan, tapi takut ketinggalan acara TV kesukaan lo. Jelas-jelas cuaca lagi panas gini. Ngeles lo ga bermutu.” Orang itu pun terkekeh pertanda perkataan Cakka itu benar. Lalu mereka meninggalkan kursi taman itu bersama selembar kertas yang tergores sketsa kasar yang terasa dingin dan sepi dan membiarkan hembusan angin membawa kertas tersebut terbang entah kemana. Sama seperti halnya Cakka membiarkan begitu saja rasa dingin dan sepi yang ada di hatinya, toh rasa itu akan hilang terbawa oleh waktu seperti kertas yang terbawa oleh angin.
            Dan akhirnya Cakka menyadari dua hal. Yang pertama. Bisa saja kita memiliki seratus, seribu, bahkan puluhan ribu teman didunia ini, tetapi kita hanya dapat menghitung dengan jari ada berapa orang yang benar-benar merupakan seorang teman yang dapat memahami dan menerima dengan apa adanya kita. Yang kedua. Bukan hanya tentang percintaan, ternyata persahabatan pun merupakan problematika yang sangat sulit dan mendominasi kehidupan  para remaja yang ada di setiap belahan dunia ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

Ingin Kamu



Lidahku kelu saat melihat wajah itu.
Tak mampu kuuntai kata-kata jadi satu.
Selalu begitu.
Rasa itu muncul ke permukaan.
Sangat tiba-tiba, tak ada dugaan.
Rasa itu menjelma dalam diri sang lelaki pujaan.

Datanglah!
Ku siap merengkuh.
Ku siap menghapus peluh.
Jika itu yang kau butuh.

Dan aku,
Selalu ingin kamu.
Itu saja.

Akulah sang Pantai

Biarkan semuanya berlalu seperti buih ombak dalam setiap hentakan gelombang yang selalu datang kemudian meninggalkan sang pantai, begitulah seterusnya. Dan kau sang gelombang, kau datang dan pergi begitu saja dengan membawa dan meninggalkan semua perlakuan manismu yang begitu semu kemudian kau pergi melupakannya seolah itu tak pernah terjadi dan kau ulangi kembali begitu kau datang kepadaku. Tapi aku sang pantai, selalu menyambut kau datang dan merelakan kau pergi dengan segenap pengharapan kau akan tetap disini tanpa harus meninggalkanku lagi.

Saat kau kembali pergi, aku merindukan buih walau itu hanya sesaat. Menyakitkan memang harus menjadi tempat perhentian sementara tapi bukankah itu yang membuat semuanya lebih berwarna? Semua perlakuan manisnya muncul meluetup-letup menggelitiki relung hatiku kemudian dalam sekejap hilang terbawa arus dan membuat rasa sepi kembali menghampiriku. Ya, seimbang dan berwarna. Senang dan sakit. Melayang kemudian terhempas. Akulah sang pantai teman sang gelombang, bersedia menjadi tempat penghempasan semua keluh dan kesahnya dengan tulus tanpa menghiraukan rasa sakit ini. Biarlah selalu seperti itu, tak apa karena aku adalah sang pantai yang tergabung dari ribuan butir pasir dan serpihan-serpihan kecil batu karang yang membuatku lebih hebat. Asinnya air laut tak mampu menambah luka pedih di hatiku. Karena kaulah gelombang, karena jika tak ada air laut kau pun tak mungkin datang kepadaku. Dan aku berharap kau selalu datang menghempaskan semua keluhmu kepadaku, kau ciptakan buih diantara aku dan asinnya air laut itu. Memang indah dan menyakitkan. Andai aku adalah laut lepas yang dapat mendamaikan sang gelombang justru bukan sang pantai yang begitu sabar menjadi tempat penghempasan sang gelombang, mungkin aku tak sesakit ini.

Akulah seorang wanita yang memendam rasa kepada sahabatnya yang telah memiliki pendamai lara. Biarkan sekarang aku menjadi pantai tempat penghempasanmu, tapi suatu saat nanti aku akan menjadi dasar lautan dimana kau akan selalu bernaung denganku selamanya.